Hari ini Hari Kartini. Biar kekinian, bagusnya ngomongin tentang tokoh satu ini. Pokoknya yang nyangkut-nyangkut dia. Kalau tetep nggak nyangkut ya itu karena kekhilafan (kesengajaan) penulis. Haha. 
Seperti biasa, di medsos muncul lagi gugatan, ‘Mengapa harus Kartini?’ Padahal masih banyak tokoh pejuang pendidikan perempuan lain yang lebih layak. Aku nggak mau masuk ke perdebatan ini, karena nggak bakal ada habisnya. 
Cuman, aku mau menggaris bawahi satu hal; Kartini itu nulis (meski cuma nulis surat). Artinya pemikirannya terabadikan. Itu membuat dia yang ‘hanya’ istri bupati mampu menggerakkan orang lain hingga sekarang. Meski mungkin dia sendiri nggak ngapa-ngapain. Bahasa kerennya, “Cuma modal curhat bisa terkenal.”
Tanpa curhatan yang dikumpulin jadi buku, aku yakin Kartini bakal hilang tertelan zaman. Boro-boro jadi nama hari nasional. 
Nah, sama dengan Kartini, aku juga suka menuangkan pemikiran ke dalam tulisan. Kalau sudah terkumpul banyak, tar kujadiin buku deh. Siapa tahu, setelah aku wafat, pemerintah akan menetapkan tanggal lahirku, 21 Juni, sebagai Hari Opik Oman. Haha. Ngarep boleh, kan. 
Begitu di medsos, lain lagi di sekolah dan berbagai instansi. Pagi tadi dua putriku berangkat sekolah dengan full make up plus pake kebaya. Jilbabnya sih, tetep. Tapi sebenarnya aku nggak setuju kalau Hari Kartini dirayakan dengan cara begitu di sekolah-sekolah. 
Lho, itu cuma setahun sekali, buat fun aja, nggak ada salahnya kan? Kenapa harus rempong. Nyatanya, aku juga ngijinin anakku bermake-up berkebaya. 
Oke lah, aku nggak nuntut itu dihilangkan, tapi tolong, jangan cuma copas casingnya aja. 
Terkait bagian awal essay ini, ada kebiasaan Kartini yang belum banyak kita praktekkan. Kebiasaan, yang kubilang tadi, jadi faktor besar terpilihnya Kartini jadi nama hari nasional. Yaitu menuangkan pemikiran ke dalam tulisan. 
So, alangkah baik jika Hari Kartini juga diperingati dengan kegiatan literasi. Baik itu menulis maupun membaca. Bukankah Hari Kartini adalah hari perempuan yang terdidik, berwawasan, namun tetap sesuai kodrat. Maka kurang tepat kalau yang jadi viral di Hari Kartini adalah foto-foto anak perempuan bermake-up, berkebaya, bergaya, ber-tagar ‘Kartini masa kini’. Seharusnya yang viral adalah pemikiran-pemikiran mereka yang tertuang di berbagai media. Itu baru Kartini sejati. Bukan jualan casing, tapi jualan isi. 
Wa Allahu a’lam 
-Opik Oman-

Advertisements